MediaSelayar.Com | Medianya Orang Selayar Tradisi "Ambeso' Kappala", Cerminan Kearifan Lokal dan Budaya Gotong Royong di Pulo Pasi
  • Jelajahi

    Copyright © MediaSelayar.Com | Medianya Orang Selayar

    Tradisi "Ambeso' Kappala", Cerminan Kearifan Lokal dan Budaya Gotong Royong di Pulo Pasi

    Minggu, 31 Oktober 2021, 17:55 WIB Last Updated 2021-10-31T15:18:42Z


    MEDIA SELAYAR.
    Sebuah cerminan tentang kearifan lokal dan budaya gotong royong kembali dilakukan oleh masyarakat Pulo Pasi Desa Menara Indah, Kecamatan Bontomatene, Kepulauan Selayar. Hal itu terlihat ketika masyarakat bahu membahu menarik kapal dari laut ke daratan, pada Jum'at (29/10).


    Pantauan Pewarta, dalam kegiatan itu tampak seorang tetua kampung, memakai peci dengan suara yang besar memberikan komando kepada masyarakat lainnya ketika akan menarik kapal ke daratan. 


    Namun, sebelumnya tetua kampung tersebut mengucapkan sesuatu, semacam sebuah mantra. Ini dimaksudkan untuk mengangkat semangat seluruh masyarakat yang terlibat pada saat melakukan penarikan kapal dari pantai ke daratan. 


    "Hooo... Ilaha illa lalang bate, hooo... Ilaha illa lalang bate'. La ka bulaeng, bulaeng kontu, intangko jamarru' kontu, teako ero' nisikko bulaeng lolo. Ali, Adam, Nur Muhammad", ucap tetua kampung tersebut. 


    Selanjutnya, disambut oleh masyarakat dengan mengucapkan, "Laailaha...  Laailaha". Ucapan itu terus dilakukan berulang-ulang setiap menarik tali yang telah ditambatkan pada bagian lambung kapal. 


    Kepada Pewarta, tokoh masyarakat Pulo Pasi Muh. Ali., mengatakan bahwa menarik kapal atau dalam bahasa Selayar disebut "Ambeso' Kappala", dari pantai ke daratan maupun menurunkan kapal dari darat ke laut, sudah menjadi kebiasaan masyarakat Desa Menara Indah sejak dulu. 


    "Acara seperti ini sejak dulu dari nenek moyang kita, sampai sekarang tidak pernah berubah, bahkan sudah menjadi kearifan lokal dan tradisi masyarakat Pulo Pasi yang tidak akan pernah hilang", ucap Muh. Ali. 


    Hal ini dikarenakan masyarakat Desa Menara Indah sebagai masyarakat yang tinggal di daerah pesisir, bermata pencaharian sebagai nelayan, tambahnya.


    "Ada kalanya kapal yang digunakan untuk mencari hasil laut itu butuh perawatan. Misalkan mengalami kerusakan yang dianggap parah dan dibutuhkan untuk dilakukan perbaikan di daratan, maka disaat itu pula masyarakat turun bergotong royong menarik kapal tersebut", jelas Muh. Ali.


    Bahkan menurut Muh. Ali, kaum perempuan juga dilibatkan dalam kegiatan ini. Karena selain menambah tenaga, kehadiran perempuan juga menambah semangat kaum laki-laki.


    "Intinya semua yang dilakukan bersama-sama itu adalah hal yang baik, terutama jika itu untuk kepentingan umum masyarakat. Dalam berbagai kegiatan lainnya juga masih sangat kental dengan semangat kegotong-royongan", jelas Muh. Ali. 


    Olehnya itu, dalam setiap kegiatan seperti ini maupun yang lainnya, kami selalu melibatkan anak-anak dan pemuda desa, agar mereka bisa mewarisi tradisi gotong-royong seperti ini, pungkasnya. (Tim). 

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Berita Terbaru