MEDIA SELAYAR – Tidak beroperasinya sejumlah kapal feri milik ASDP Indonesia Feri di lintasan Bira–Pamatata selama tiga hari terakhir mengakibatkan terganggunya arus transportasi penumpang dan barang menuju Kabupaten Kepulauan Selayar.
Ketua Forum Peduli Selayar (FPS), Andi Nurhamzah, mengatakan jalur penyeberangan Selat Selayar merupakan urat nadi perekonomian masyarakat. Karena itu, gangguan pelayanan kapal feri akan berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi di daerah kepulauan tersebut.
"Jalur Selat Selayar adalah jalur utama perekonomian masyarakat Kepulauan Selayar. Jika jalur ini terganggu, maka aktivitas ekonomi masyarakat juga pasti ikut terganggu," ujar Andi Nurhamzah di Pelabuhan Pamatata, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, sebelumnya ASDP mengoperasikan lebih dari satu kapal feri setiap hari. Namun dalam tiga hari terakhir hanya KMP Kormomolin yang melayani penyeberangan, sehingga menyebabkan antrean kendaraan semakin panjang di Pelabuhan Bira maupun Pelabuhan Pamatata.
Akibatnya, mobil angkutan penumpang yang biasanya beroperasi pada pagi hari kini harus menjemput penumpang sejak dini hari.
Sementara truk pengangkut barang bahkan harus mengantre hingga dua malam untuk memperoleh giliran menyeberang.
Kondisi tersebut menyebabkan distribusi barang dan mobilitas masyarakat menjadi terhambat. Keterlambatan arus logistik dikhawatirkan berdampak pada pasokan kebutuhan pokok, hasil bumi, serta berbagai sektor ekonomi lainnya di Kabupaten Kepulauan Selayar.
Andi menegaskan, ASDP sebagai operator utama penyeberangan di Selat Selayar harus segera menghadirkan solusi agar pelayanan kembali normal. Termasuk mempertanyakan keberadaan KMP. Bontohatu yang nota bene diadakan untuk melayani masyarakat Selayar sesuai namanya.
"ASDP wajib segera mencarikan solusi agar pelayanan kembali normal. Jika tidak mampu memenuhi kebutuhan pelayanan masyarakat, maka pemerintah sudah waktunya membuka peluang bagi investor transportasi laut untuk melayani lintasan Selat Selayar dengan memberikan berbagai kemudahan," tegasnya.
Pantauan Pewarta di Pelabuhan Bira menunjukkan masih banyak truk pengangkut barang yang belum memperoleh giliran menyeberang ke Selayar. Kondisi serupa juga terlihat di Pelabuhan Pamatata, di mana sejumlah truk bermuatan hasil bumi masih mengantre untuk diseberangkan menuju Bira.
Situasi ini semakin mempertegas perlunya langkah cepat dari pihak terkait agar jalur penyeberangan Selat Selayar kembali normal mengingat lintasan tersebut merupakan akses utama yang menopang kehidupan dan perekonomian masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar. (R).


