Home » , » Jangan Terlalu Menyalahkan Presiden

Jangan Terlalu Menyalahkan Presiden

Penulis Media Selayar on Jumat, 26 Agustus 2011 05.51.00

MEDIA SELAYAR. Kasus-kasus yang akhir-akhir ini meramaikan tanah air, mulai dari kasus yang kecil sampai yang besar tentu saja membuat banyak kalangan gerah.sebut saja kasus korupsi Muhammad Nazaruddin, Nunun Nurbaeti, Arsyad Sanusi dan lain-lain yang sampai sekarang belum juga menemui titik terang, juga kasus pelaporan kecurangan ujian nasional oleh alif dan orang tuanya yang berujung pengusiran warga sekitar yang tidak terima dan terakhir yang baru heboh-hebohnya yaitu kasus pemancungan TKI di Arab Saudi atas nama Ruyati binti Sapubi. itu mungkin adalah kasus-kasus besar yang dapat mencuat beritanya ke permukaan. di balik itu, tidak menutup kemungkinan juga terdapat ribuan kasus yang mandeg begitu saja karena tidak terexpose sehingga terbengkalai dan tak kunjung selesai.


Dari sekian banyak kasus itu, tentu saja ada lembaga khusus yang harusnya bertanggung jawab penuh atas itu. misalkan saja, kasus korupsi, itu yang wajib bertindak tentu saja Menko Polhukam, KPK, Polri dan Kejaksaan. kasus ujian nasional tentu saja menjadi PR yang harus di selesaikan Mendiknas. dan permasalahan yang menimpa TKI adalah hak bagi Menlu, Kedubes, Menakertrans, Menko Polhukam dan BNP2TKI untuk mengurus dan menyelesaikannya. 

Namun demikian, lembaga yang patut di mintai pertanggungjawaban penuh adalah lembaga eksekutif alias presiden. itu wajar, karena, ibarat manusia, presiden adalah otak yang memegang fungsi atas semua organ. maka tak ayal, presiden selalu di monitoring oleh rakyat. jika salah mengambil langkah sedikit saja, maka caci maki dan cemoohan akan mengalir begitu saja tanpa bisa di bendung. padahal menjadi presiden Indonesia di saat-saat suasana runyam seperti ini tidaklah mudah. presiden di tuntut untuk mengambil langkah yang cepat dan tepat dalam segala kondisi.

Maka tak heran jika Presiden SBY kadang-kadang merasa geram atas tingkah laku sebagian pihak yang dengan sepihak menyalahkan dan memaki-maki presiden tanpa mau tahu asal-usul dan seluk-beluknya. Padahal SBY itu sebenarnya adalah sosok yang tegas dan bijaksana. 

Namun beliau tidak mempunyai pendukung yang sepadan untuk ketegasan dan kebijaksanaannya itu. SBY mempunyai kapabilitas sebagai pemimpin negara dan pemimpin pemerintahan, ibarat permainan sepak bola, SBY adalah playmaker sekaligus kapten, namun dalam tim sepak bola itu hanya beliaulah pemain yang bagus, tanpa di dukung oleh striker yang tajam dan bek dan kiper yang tangguh, sehingga jangankan menembus pertahanan lawan, mengembangkan permainan timnya sendiri saja masih kelimpungan. fakta buruk seperti inilah yang menghampiri SBY saat ini. 

Parlemen sulit untuk di ajak melangkah bersama-sama bahkan sama sekali terkesan sangat individual karena ingin memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri-sendiri. Tidak hanya itu, mereka juga terkesan tidak serius ketika menghadiri sidang.

Tercatat SBY berkali-kali menegur para anggota parlemen. terakhir, pada sidang yang membahas kasus-kasus TKI termasuk kasus pemancungan TKI atas nama Ruyati binti Sapubi, SBY terlihat benar-benar marah kepada koleganya itu. pada saat itu ada beberapa anggota sidang yang ngobrol sendiri dengan rekan di sampingnya dan SBY langsung menegur dengan berkata “hey, jangan ngomong sendiri, jangan bercanda sendiri, ini masalah penting, ya, lihat duduk persoalannya, jangan kesana kemari, melibat kesana kemari, ini kepemimpinan di uji, tanggung jawab di uji”. 

Ini bukan pertama kalinya SBY muntab. sebelum itu, beliau juga marah ketika di gelar sidang yang di hadiri oleh para bupati dan walikota. ketika itu, terlihat ada seorang peserta yang kelihatan mengantuk. SBYpun langsung marah dan mengingatkan mereka “coba itu bangunkan yang tidur, kalau tidur di luar saja, pemimpin bagaimana memimpin rakyat kalau di ruangan ini tidur, malu kepada rakyat!, di pilih langsung saudara oleh rakyat, untuk di ajak bicara memajukan rakyat tapi malah tidur, ya, jangan main-main dengan tanggung jawab!, mekipun pinter, selangit pinternya, tapi kalau kepribadiannya jelek, itu jadi racun!”.

Nah, dari fakta-fakta tersebut, terlihat kalau SBY belum mendapatkan dukungan sepenuhnya dari kolega, padahal beliau sudah beritikad baik. SBY seperti berjalan sendirian di depan dan harus menyelesaikan sendiri permasalahan-permasalahan yang menimpa bangsa, karena para koleganya masih ngadat dan seolah-olah tidak mau tahu apa yang sedang terjadi. 

Dari pemaparan di atas bahwa ada peserta yang tidur bahkan ngobrol sendiri di saat presiden sedang berpidato memberikan pengarahan, itu menunjukkan kalau mereka tidak sepenuhnya mencermati pidato presiden. apa namanya kalau bukan “masa bodoh dan tidak mau tahu”. yang pasti SBY sekarang lagi butuh dukungan untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan negeri ini, ibarat striker itu butuh tandem yang sepadan untuk menembus pertahanan lawan. mengkritik boleh, asal tidak membabi buta. ibarat suporter, menyalahkan boleh, karena memang tim sedang kalah, tapi tim juga butuh dukungan untuk kembali meraih kemenangan.


Bila terdapat kekeliruan dalam penulisan silahkan Kontak Redaksi kami Untuk Klarifikasi

0 KOMENTAR TRENDERS:

Posting Komentar

Terima Kasih Telah Berbagi Dengan Kami Di Redaksi Blog Media Selayar

CARI BERITA