Selayar
Home » , , , , » Israel Bantai 19 Relawan Serang Kapal Bantuan bagi Warga Jalur Gaza

Israel Bantai 19 Relawan Serang Kapal Bantuan bagi Warga Jalur Gaza

Penulis Media Selayar on Minggu, 06 Juni 2010 06.38.00


Israel Bantai 19 Relawan
Serang Kapal Bantuan bagi Warga Jalur Gaza

GAGALKAN MISI KEMANUSIAAN. Helikopter dan sebuah kapal komando milik Israel mencegat kapal Mavi Marmara yang tengah berlayar menuju Gaza, Palestina, Senin 31 Mei. (FOTO URIEL SINAI/AFP)

JERUSALEM -- Israel menuai protes dan kecaman dari seluruh dunia. Hal itu terjadi setelah marinir dan pasukan komando TNI-AL negara tersebut menyerbu dan menyerang armada enam kapal yang membawa bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Jalur Gaza, Senin pagi 31 Mei.

Serangan atas rombongan kapal yang tergabung dalam Freedom Fotilla itu terjadi di wilayah perairan internasional dekat Jalur Gaza sebelum subuh. Dalam serangan tersebut, sedikitnya 19 penumpang kapal bantuan tewas dan 36 lainnya luka-luka.

Setelah insiden tersebut, enam kapal asing berikut para penumpang dan isinya dibawa ke Ashdod, kota pelabuhan Israel. Kabarnya, hingga malam tadi, sekitar 700 orang yang menumpang kapal-kapal itu masih diinterogasi militer Israel.

Ada beberapa informasi soal korban jiwa dalam serangan tersebut. Militer Israel menyebutkan bahwa 10 penumpang kapal Mavi Marmara yang berbendera Turki tewas. Tetapi, stasiun televisi Israel, Channel 10 TV, melaporkan bahwa 19 penumpang kapal tewas dan 36 lainnya luka-luka dalam serangan itu.

Sementara itu, IHH, lembaga swadaya masyarakat (LSM) Turki yang tergabung dalam armada bantuan kemanusiaan tersebut, menyatakan, sedikitnya 15 tewas. Sebagian besar korban adalah warga negara Turki.

Penumpang kapal-kapal itu merupakan relawan dan aktivis dari Turki, Eropa, Israel, Palestina, Israel, dan AS. Ada pula anggota parlemen Eropa dan sejumlah tokoh lintas agama.

Pembantaian berdarah tersebut mengakhiri misi pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza yang dikenai blokade dan embargo oleh Israel beberapa tahun ini. Insiden itu juga terjadi sebelum pertemuan bilateral Presiden AS Barack Hussein Obama dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu di Washington DC.

Reporter stasiun TV Al-Jazeera melaporkan, tentara Israel terus menembaki kapal-kapal bantuan sebelum menyerbu dan menaikinya. Saat kejadian itu, dia menumpang salah satu di antara tiga kapal berbendera Turki yang tergabung dalam rombongan. Dua kapal lainnya berbendera Yunani dan satu lagi berbendera AS.

Tetapi, tentara Israel mengklaim hanya menembak setelah diserang para aktivis dengan tongkat, pisau, dan api. Israel juga telah menyita ''senjata-senjata'' yang digunakan para aktivis tersebut.

"Di atas kapal, kami menemukan sejumlah senjata yang siap digunakan dan yang telah dipakai untuk menyerang pasukan kami,'' kata Wakil Menlu Israel Danny Ayalon. ''Tujuan penyelenggara (bantuan) itu adalah melakukan kekerasan. Akibatnya, juga terjadi kekerasan dan membawa korban. Israel menyesalkan jatuhnya korban tewas dan telah berupaya untuk menghindari,'' lanjutnya.

Dari rekaman video milik rombongan kapal, jelas terlihat bahwa tentara Israel memerintahkan armada Freedom Fotilla untuk berhenti. Selanjutnya, tentara Israel menaiki kapal dan terlibat kontak fisik dengan penumpang. Seorang pria penumpang kapal mengayunkan kayu ke arah tentara Israel.

Dalam rekaman yang telah disebarkan ke seluruh jaringan internet itu, pasukan komando Israel yang memakai tutup wajah dan kepala warna hitam turun dari helikopter. Setelah terjadi kontak fisik, beberapa orang terluka dan terbaring di dek kapal.

Televisi Israel juga menayangkan gambar aktivis yang menikam seorang tentara Israel. Anggota pasukan serbu Israel menuturkan, dia diserang dengan logam batangan dan pisau saat turun ke kapal dari helikopter sekitar pukul 04.00 (pukul 08.00 WIB). ''Beberapa aktivis yang berbicara dalam bahasa Arab lantas mencoba untuk menyandera kami,'' katanya.

Israel mengklaim, 10 tentaranya juga terluka dalam bentrok tersebut. Dua di antaranya luka parah. Para korban luka, termasuk penumpang kapal bantuan, dilarikan ke rumah sakit Israel dengan helikopter.

Serangan Israel tersebut menuai reaksi dari seluruh dunia. Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebut serangan itu sebagai "pembunuhan masal atau pembantaian". Abbas juga mengumumkan masa berkabung tiga hari.

Bersama otoritas Palestina, dia menyerukan Dewan Keamanan (DK) PBB untuk mengadakan pertemuan darurat. Seruan pertemuan darurat DK PBB juga dilontarkan PM Lebanon Saad Hariri.

Komunitas Arab menyerukan balasan terhadap serangan Israel. Mereka juga menyuarakan protes dan unjuk rasa di semua negara. Para pemimpin muslim mengutuk serangan itu sebagai ''kejahatan'' dan ''tidak manusiawi''.

Bahkan, sejumlah negara yang dekat dan menjadi sekutu Israel juga bereaksi dengan membekukan hubungan militer. Mereka juga memanggil duta besar Israel di negara mereka untuk menyampaikan nota protes diplomatik. Reaksi itu tidak berlebihan karena para penumpang kapal bantuan berasal dari banyak negara.

Kecam
Sementara itu, pemerintah Indonesia mengecam dan mengutuk Israel yang menyerang misi kemanusiaan Freedom Flotilla di kapal Mavi Marmara yang tengah berlayar menuju Gaza, Palestina. Pemerintah juga akan terus berusaha memastikan nasib warga negara Indonesia yang turut serta dalam misi pelayaran kemanusiaan tersebut. 

"Tentu sikap kita terhadap tindakan Israel itu mudah, jelas, dan lugas. Tentu kita mengecam serta mengutuk tindakan Israel menyergap kapal kemanusiaan itu, bahkan di luar perairannya,'' kata Menlu Marty Natalegawa di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 31 Mei.

Menurut Marty, Israel telah melakukan kesalahan ganda dengan menyergap kapal misi kemanusiaan tersebut. Selain tak ada dasar untuk menyergap, tindakan blokade yang dilakukan tentara zionis itu merupakan pelanggaran hukum internasional.

''Pendek kata, sangat jelas hitam putih. Dalam arti kata, Israel telah melanggar hukum internasional, bukan saja tindakan penyergapannya, tapi juga blokadenya. Ada kesalahan pelanggaran hukum multidimensional, baik penyergapannya maupun blokadenya,'' terang Marty.

12 Relawan RI Belum Jelas

Hingga malam tadi, belum ada kejelasan soal nasib 12 relawan Indonesia yang berangkat ke Jalur Gaza, Palestina, dengan menumpang kapal Mavi Marmara. Mereka tergabung dalam tim relawan pembangunan rumah sakit (RS) Indonesia di Gaza. Di antara jumlah itu, lima orang adalah relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C).

Chief Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad mengatakan, sebelum kapal relawan diserang tentara Israel, pihaknya menghubungi ketua tim relawan Nur Fitri Moeslim Taher. ''Terakhir, saya mendapat informasi sebelum mereka bersandar,'' katanya saat dihubungi malam tadi.

Menurut Sarbini, informasi tersebut diperolehnya dari Fitri melalui pesan singkat lewat ponsel (SMS). Isinya berupa pemberitahuan bahwa dua jam lagi kapal bersandar di pelabuhan Israel. ''SMS itu dikirim saat mereka masih di tengah laut,'' ujarnya.

Setelah menerima SMS tersebut, kata Sarbini, pihaknya mendapatkan kabar bahwa kapal mereka diserang tentara Israel. Hingga malam tadi, seluruh relawan tidak bisa dihubungi, baik melalui ponsel maupun internet. "Kami sudah coba mengirim pesan, tapi belum ada jawaban," jelasnya.

Salah seorang pendiri MER-C Yogi Prabowo menegaskan, selain ada lima relawan MER-C, dalam kapal tersebut terdapat empat relawan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA) serta tiga relawan dari media cetak Sahabat Al-Aqsa dan Hidayatullah. ''Total relawan Indonesia berjumlah 12 orang,'' ungkapnya.

Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi itu menambahkan, seluruh relawan asal Indonesia tidak bisa dihubungi. Bahkan, pemerintah Israel dan pemerintah Turki juga belum memberikan informasi yang tepat. ''Masih simpang siur, tapi kami selalu berupaya berkomunikasi dengan mereka,'' tuturnya.

Menurut Yogi, informasi terakhir yang didapatkan MER-C, 19 korban meninggal dunia dan 30 luka-luka dalam penyerangan tersebut. ''Kami dapatkan informasi itu melalui media. Kami belum bisa cek kebenarannya,'' ujarnya.

Meski belum mendapatkan informasi yang jelas, Yogi optimistis bisa meneruskan misi pembangunan rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza. ''Misi kami harus terus maju, meski kejahatan terhadap kemanusiaan menghalangi,'' tegasnya.

MER-C memberangkatkan lima relawan untuk menembus Jalur Gaza pada 19 Mei lalu. Mereka adalah Abdillah Onim, Dr Arief Rachman, Nur Ikhwan Abadi, Nur Fitri Moeslim Taher, dan Muhammad Yasin dari TVOne. (jpnn)

0 KOMENTAR TRENDERS:

Posting Komentar

Terima Kasih Telah Berbagi Dengan Kami Di Redaksi Blog Media Selayar