Kamis, 08 November 2018

Pasca Heboh Dengan Penculikan Warga Selayar, Gerombolan Abu Sayyaf, Kembali Tebar Teror

MEDIA SELAYAR. Kementerian Perhubungan melalui Dirjen Perhubungan Laut (Hubla) mengeluarkan Maklumat terkait kewaspadaan berlayar menuju perairan Fhilipina. Hal ini tertuang pada Maklumat Pelayaran (Mapel) nomor 148/TX-30/XI/DN-18.

Dalam maklumat tersebut menjelaskan dasar peningkatan kewaspadaan terhadap kapal yang akan berlayar menuju perairan Filipina. Adanya informasi dari Philippine Focal Point Kurbuk, Philippine Coast Guard, bahwa ada rencana kelompok Abu Sayyaf melakukan penculikan di tiap kesempatan yang memungkinkan di daerah yang dirahasiakan.

Informasinya kelompok tersebut menggunakan kapal motor berwarna biru dan putih tanpa ada tanda pengenal yang biasa disebut jungkong.

Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli, KSOP Kelas III Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) Syaharuddin membenarkan adanya mapel terkait peningkatan kewaspadaan terhadap kapal yang akan menuju ke perairan Filipina.

”Dengan adanya mapel tersebut, kami sebelum menerbit surat persetujuan berlayar (SPB), terlebih dahulu mengimbau kepada nakhoda kapal berbendera Indonesia yang akan berlayar menuju Filipina ataupun hanya melintasi perairannya, untuk menghindari perairan yang rawan konflik di daerah perairan Filipina Selatan dan perairan Malaysia Timur,” ungkapnya.

Pihaknya juga mengimbau kepada setiap kapal ketika berada di daerah perairan rawan tersebut untuk dapat meningkatkan kewasapadaan sesuai dengan international ship and port facility security code. Tujuannya tidak lain demi keselamatan kapal, nakhoda dan awak kapal.

”Di atas kapal ada sistem keamanan, pola itu yang diharapkan dilaksanakan di atas kapal ketika melakukan pelayaran ke Filipina, tuturnya.

Selain dirinya mengimbau jika ada hal-hal yang dapat mengancam keselamatan nakhoda dan awak kapal, pihaknya mengimbau agar segera menghubungi stasiun radio pantai terdekat ataupun petugas yang bisa menjangkau ke lokasi kapal yang meminta pertolongan.

”Nakhoda harus sigap ketika merasa ada hal-hal yang dapat mengancam keselamatan,” ujarnya.

Selain memberikan imbauan kepada kapal yang berlayar ke Filipina, pihaknya juga memberikan imbauan kepada kapal penumpang tujuan Tawau, Malaysia seperti Indo Maya dan Tawindo.

”Meski kapal penumpang ini kecil terjadinya kejahatan pembajakan, tapi kita tetap memberikan imbauan, tujuannya tidak lain untuk meningkatkan kewaspadaan, karena potensi kejahatan sekecil apapun bisa terjadi bila ada peluang,” pungkasnya.

Sebelumnya, tiga nelayan Indonesia yang sebelumnya disandera kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina Selatan belum lama ini, kembali ke kampung halamannya di Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis, (20/9) lalu. Kedatangan mereka diwarnai tangis haru keluarga.

Dua dari tiga nelayan merupakan warga Kabupaten Kepulauan Selayar dan seorang warga Kabupaten Bulukumba, Sulsel.

Khusus warga Selayar, Hamdan dan Sudarling, diantar langsung pihak Perwakilan Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Diah via Bandara Aroeppala Selayar, Kamis, (20/9) lalu. Hamdan tak bisa melupakan peristiwa penyanderaannya itu.

Saat itu, ia dan Sudarling serta Subandi, warga Kabupaten Bulukumba sedang melaut di perairan Taganak, Sabah Malaysia pada Januari 2017. Sebuah speedboat mendekati kapalnya. Sembilan orang bersenjata lengkap di atas speedboat itu berhasil naik ke atas kapal.

Mereka mengaku tentara Filipina. Ia dan dua rekannya pun dibawa ke sebuah pulau besar di wilayah Filipina.

Di tempat itulah, ia baru mengetahui keenam orang tersebut bukanlah tentara Filipina, melainkan kelompok militan Abu Sayyaf. Selama disandera, cerita Hamdan, mereka diberlakukan manusiawi. Kadang pula disuruh berolahraga.

"Kami tidak dianiaya, yang penting dituruti perintahnya," bebernya.
Hamdan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang melakukan upaya pembebasannya, sehingga dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.

Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Pemkab Kepulauan Selayar Arfang Arif mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) melalui PWNI yang menfasilitasi korban hingga bertemu keluarga. Ia juga menyampaikan rasa syukur karena korban akhirnya dibebaskan dalam keadaan sehat.

Di Bulukumba, penyerahan sandera Abu Sayyaf, Subandi oleh pihak Kemenlu diterima Bupati Bulukumba A.M. sukri Sappewali di rumah jabatan bupati Bulukumba

Seperti yang dikutip dari pembicaraan Hamdan kepada Pewarta beberapa saat lalu diatas kapal Sabuk Nusantara dari Kepulauan ke Benteng Selayar. Tentang pengalaman Hamda dan Sudarling asal Pulau Bembe Kecamatan Pasimasunggu Kabupaten Kepulauan Selayar saat disandera Abu Sayyaf. (***)


0 KOMENTAR TRENDERS:

Posting Komentar

Terima Kasih Telah Berbagi Dengan Media Selayar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

MEDIA SELAYAR. Diberdayakan oleh Blogger.