Selayar
Home » , » Politisi: "Bacalah Bahasa Hati Rakyat !

Politisi: "Bacalah Bahasa Hati Rakyat !

Penulis Media Selayar on Sabtu, 22 April 2017 06.45.00


JANGANKAN menatap mata manusia yang sengsara, miskin dan lapar. Dengan menatap mata sekelompok kucing yang lapar saja, jika kita masih punya hati, pastilah membayang air di mata kita.Dengan suasana hati yang bersih dan tulus, kita serta merta merasakan hati kita tergoncang, di saat menatap orang-orang tak beruntung itu.

Mereka adalah "sesama" kita, yang tak pernah bermimpi untuk dilahirkan sengsara, miskin dan kelaparan.
Mereka, seperti janji Tuhan, tak dilahirkan untuk miskin dan sengsara, tapi susunan masyarakatlah yang memiskinkan mereka. Susunan masyarakat sederhanyanya membagi dua kelompok manusia, yang lazim kita sebut "Si Kaya dan Si Miskin".

Hadirnya seorang pemimpin yang diplih oleh rakyat melalui suatu pemilu, tujuan utamanya adalah bagaimana mengatur agar Si Kaya tidak semakin kaya dan Si Miskin tidak semakin miskin.
Politik demokrasi mulai kita anut dan laksanakan sejak masa reformasi, tidaklah ada artinya bagi raktat seluruhnya, apabila proses demokrasi tidak melahirkan "kesejahteraan" dan "keadilan".

Apa gunanya suatu politik yang disebut suatu demokratis, yang selalu bermottokan "suara rakyat, suara Tuhan" jika bukti-bukti kerjanya atau implimentasinya jauh panggang dari pada api? Atau omong kosong besar?

Tahun 2008 akan segera berakhir dan kita pun akan segera menapaki tahun baru 2009! Sudah mulai pula terdengar suasana sibuk yang gemuruh dari puluhan jumlah partai, masuk dalam pusaran kompetisi,
memperebutkan kursi-kursi wakil rakyat, mulai dari tingkat DPRD kabupaten kota, lalu tingkat provinsi, kemudian DPR RI (dan juga DPD RI) sambil berancang-ancang memilih capres dan cawapres.
Semua itu merupakan proses berpolitik demokratis.

Yang pada dasarnya, demokrasi itu tidak lain dari perpanjangan tangan dari cita-cita untuk mensejahterakan kehidupan rakyat. Maka sudah waktunya calon calon-calon pemimpin itu bercermin pada sepenuh-penuh harapan rakyat, yang terpencar dari begitu banyak sorot mata orang-orang lapar dan sengsara.

Para calon pemimpin, jangan cuma asyik bahkn mabuk, bercermin pada bayangan dari cermin "kemenangan" untuk merebutkan kursi kekuasaan. Dalam mana "kesenangan pribadi dan golongan" menjadi taruhan yang tak tertawarkan dan mutlak.

Sudah terlalu lama kita dirasuki norma-politik machiayelis. yaitu penghalalan seluruh cara demi mencapai tujuan, yang oleh budaya politik dalam tafsiran orang Bugis disebut "politik Sianre-Bale" politik penaklukan ini menggunakan segala jurus persilatan berupa "kuasa plus uang".

Sambil menendang jauh-jauh apa yang disebut moralitas dan rasa malu. Pokonya, sebelum orang lain memakan saya, sebaiknya saya yang mendahului: "to kill or to be killed"

***
Pertarungan politik model "Sianre Bale" ini selain berdampak semakin rapuhnya budaya politik demokratik yang dengan susah payah kita bangun, "politik" yang kita sebut demokratik itu, pada akhirnya memakan tuannya sendiri.
Siapakah tuan dari politik demokrasi itu? Ya, tidak lain adalah rakyat itu sendiri! Rakyat lagi-lagi menjadi korban dari kerakusan "jual-beli" harga diri dari para calon elite pemimpin.
Maka sudah saatnya, rakyat bangkit menyadari posisinya yang kuatdan mulia.

Untuk cerdas dan bermata kritis, bagaimana menentukan pilihannya yang tepat dan pantas menjadi tokoh yang pantas untuk dipilih.

Pemilu 2009, adalah saat paling menentukan ke mana bangsa ini, menata arah jalannya ke depan. Maka rakyat selain harus trampil untuk bergerak TEPAT PILIH, juga sekaligus harus berani tampil TAGIH JANJI POLITIK!

Di sisi itu, para politisi yang mengampanyekan diri untuk dipilih, sudah saatnya meninggalkan cara-cara politik Machiavelis (Sianre Bale), yang menghalalkan segala cara demi tujuan. Dan membaca sedalam-dalamnya apa makna "bahasa hati" rakyat yang terpancar dari sorot mata yang penuh HARAP...!

(Rahman Arge: 08151853008)
(Fajar)

0 KOMENTAR TRENDERS:

Posting Komentar

Terima Kasih Telah Berbagi Dengan Kami Di Redaksi Blog Media Selayar