.

Media Selayar

Medianya Orang Selayar

Home » , » Dicari Calon Bupati Progresif!

Dicari Calon Bupati Progresif!

Penulis Media Selayar TV on Jumat, 21 April 2017 09.16.00

MEDIA SELAYAR WHILE IMPROVEMENT OF WEB. Kran desentralisasi telah memberikan kemandirian politik melalui Pilkada langsung. Masyarakat di daerah kemudian memiliki otoritas untuk memilih siapa kontestasi paling layak dan bisa mengantarkan kepentingannya dalam periode lima tahunan. 

Oleh: Anis Kurniawan
Koordinator Sulawesi for Politik and Policy Studies (eSPOSS)


Mahasiswa Pascasarjana, Ilmu Politik UGM Yogyakarta

Pertaruhan nasib masyarakat ditentukan dalam kontestasi itu, tetapi persoalannya adalah betulkah Pilkada bisa menjamin munculnya pemimpin daerah yang progresif?

Dalam konteks itu, menarik untuk melacak aktor-aktor yang paling dominan dalam kontestasi Pilkada. Bagaimana peran kelompok masyarakat umum dalam proses politik itu. Dua hal ini sangat penting untuk membuktikan seberapa demokratiskah Pilkada di daerah.

Rivalitas Elit dan Dinastitokrasi

Fenomena yang berkembang di banyak daerah di Indonesia adalah terjadinya rivalitas di kalangan elit-elit lokal dalam kontestasi Pilkada. Partai politik yang dijadikan sebagai kendaraan politik hanya sebagai prasyarat administratif yang mengesahkan pasangan kandidat untuk bertarung.

Di sini berlangsung logika market, posisi tawar menawar (jual beli) dalam logika cost and benefit (untung rugi). Karena itulah, Partai kemudian menjadi barang mewah yang menjual dirinya tergantung pada siapa yang bisa menghargainya paling mahal.

Pada ranah negosiasi politik di level ini, jelas mensyaratkan adanya dominasi elit dalam artian mereka yang bisa menjadi peserta lelang partai sudah pastilah punya modalitas tinggi. Jangan ditanya soal mekanisme test and propert test yang alih-alih digemboskan partai dalam penjaringan bakal calon, proses itu jelas hanya menjadi medan perjudian dimana partai akan menverifikasi para nominasi secara lebih konkrit tentang siapa pemegang modalitas.

Partai sebagai institusi intermediary (penyambung aspirasi) jelas tidak lagi bekerja. Harga diri partai kemudian ditukar dengan pengaruh segelintir elit partainya. Di fase ini saja, ranah publik diperkosa oleh elit politik itu.

Di tahap ini pula, partai politik melupakan fungsinya sebagai instrumen politik yang harusnya melakukan mekanisme rekrutmen yang baik agar menghasilkan figur yang progresif. Tidak perlu dipertanyakan soal bagaimana partai yang mengusung kandidat itu hadir ditengah-tengah kita, dalam proses kampanye penuh janji-janji untuk sungguh-sungguh memperjuangkan persoalan kerakyatan. Amat nonsense!

Elit-elit politik dengan modalitas ekonomi maupun dengan modal sosial itu saling bertarung untuk merebut simpati pemilih dalam suatu prinsip demokrasi. Mereka mendeklarasikan diri sebagai nominasi yang dipercaya oleh partai politik dan sekaligus dipercaya oleh rakyat. 

Padahal siapa mereka? Kebanyakan dari mereka adalah para elit yang selama ini punya akses politik memadai, modalitas kultural atau modalitas ekonomi yang bisa dikategorikan sebagai elit. Nyaris tidak ada satu pun kontestasi pada Pilkada di 11 kabupaten ini yang murni dari grasroot, petani misalnya ataukah nelayan pinggiran.

Di banyak daerah kita temukan, para nominasi itu pastilah bangsawan lokal (karaeng atau andi) atau politisi dengan modalitas ekonomi kuat. Fenomena dinastitokrasi juga berkembang, ada sebagian kandidat bupati yang punya relasi keluarga misalnya dengan elit politik lokal lainnya.

Ada struktur politik dinasti yang sengaja dihidupkan oleh kelompok keluarga tertentu untuk mempertahankan kekuasaan dinasti keluarganya. Selain itu terjadi rivalitas antar elit yang sangat tajam, di Kediri misalnya, dari tiga kontestasi yang bertarung dua diantaranya adalah isteri pertama dan kedua incumbent.

Lalu, dimana ranah masyarakat bawah? Masyarakat kemudian menjadi objek yang diperebutkan oleh kontestasi itu dengan sangat kejam. Kontestan itu hadir dengan janji visi-misi pembangunan dan perubahan tetapi sesungguhnya juga menawarkan proses jual beli suara. Logika ini pun merebak di hati pemilih, mereka tidak sepenuhnya percaya bahwa Pilkada bisa membuat mereka keluar dari lorong kemiskinan, lalu jalan paling nyaman adalah menikmatinya seketika itu juga. Suara kemudian di lelang sebagaimana partai politik yang melelang dirinya bagi kontestan.

Inilah kerancuan demokrasi prosedural di tengah masyarakat yang menghadapi persoalan beban ekonomi. Sementara logika politik bagi elit kemudian disederhanakan menjadi 80% lebih dari massa kebanyakan adalah kelompok sosial yang menunggu jawaban langsung melalui selembar lima puluh ribu, seratus ribu atau sekardus indomie.

Momentum Pilkada lalu dijadikan musim uang bagi aktor-aktor di luar politik formal untuk mengambil untung. Tidak bisa dilepaskan bahwa diantara politisi yang bermain itu ada predatory broker atau broker politik yang menjalankan peran pendampingan strategi pemenangan atau untuk tujuan provokasi massa. Politik informal kemudian mendapat ruang besar untuk mengambil kesempatan dengan menjual bargaining position dengan kontestan, di sana ada karaeng kampung, tokoh masyarakat, ustads, bahkan komunitas premanisme yang tersebar di setiap tempat. Transaksi Pilkada tidak ada bedanya dengan transaksi pasar, sehingga bisa dipastikan bahwa logika politik yang bermain adalah logika pasar.

Dimana Calon Progresif?

Bagaimana pun juga, tujuan dasar Pilkada ini adalah mengantarkan seorang pemenang ke kursi kekuasaan dalam rangka mengantar kepentingan rakyat. Sehingga dibutuhkan memang calon pemimpin yang dalam bahasa F. Fukuyama sebagai the trusted leader, figur yang bisa dipercaya karena integritas moral, visi dan kompetensinya dalam menyelesaikan tugas yang diembangnya (Zainuddin Maliki: Politikus Busuk, 2004).

Selain itu dibutuhkan calon bupati progresif dengan kemampuan menjalankan kerja-kerja kepemimpinan yang cepat, peka terhadap kebijakan publik serta mengedepankan subtansi pelayanan publik ketimbang semata seremonial. Progresifitas juga dibutuhkan seorang pemimpin daerah dalam membaca kapasitas daerahnya, memahami kecenderungan potensi masyarakatnya sebagai modal yang bisa digerakkan untuk perubahan kolektif.

Progresifitas tidak hanya di atas kertas visi dan misi di saat kampanye tetapi ditunjukkan dari progresifitas figurnya sebelum memimpin. Tidak heran jika jaminan progresifitas dari seorang figur kadang hanya bisa ditemukan dari politisi-politisi yang berlatarbelakang sebagai representasi kaum muda, berasal dari iklim profesi yang dinamis serta mantan aktivis gerakan sosial atau bisa saja akademisi yang dikenal kritis.

Apakah calon pemimpin daerah yang progresifitas itu ada di 11 Kabupaten di Sulsel dalam Pilkada 2010 ini, ditengah himpitan dominasi dan rivalitas elit? Ataukah adakah diantara elit-elit politik itu yang bisa diandalkan sebagai figur progresif? Kalaupun ada, seberapa kuat modalitas mereka untuk bertarung di tengah himpitan raksasa-raksasa yang jelas lebih punya kuasa power lebih besar?

Menemukan calon yang progresif pada akhirnya menjadi sulit. Tidak heran kemudian jika dinastitokrasi melanggeng di ranah politik lokal. Lalu, Pilkada hanya untuk sebagian kecil dari apa yang disebut massa yang membutuhkan pengayoman dari siapa memenangkan penyerahan mandat.

Kalau begitu adanya, skeptimisme politik masyarakat akan terus membengkak. Demokrasi prosedural kemudian hanya menjadi ajang menghamburkan uang rakyat yang jumlahnya tidak sedikit antara 12-20 Milyar. Harga yang mahal dan tidak bisa dibenarkan bahwa demokrasi harus dibayar semahal itu. 

Bukankah yang harus dibayar mahal adalah kemiskinan dan derita yang juga membengkak dari pelosok-pelosok masyarakat kita. Maka, menarik untuk merekomendasikan upaya menimbang kembali Pilkada langsung ini di masa-masa datang—kalau saja calon progresif belum mendapat ruang—kalau saja masyarakat belum berterima pada calon progresif, karena dibutakan duit.

0 KOMENTAR TRENDERS:

Posting Komentar

Terima Kasih Telah Berbagi Dengan Kami Di Redaksi Blog Media Selayar

BERLANGGANAN BERITA

 
Alamat Redaksi Jl.Mkr Bonto No 28 | Benteng Kab-Kep-Selayar -92812- email- radiocontrend at yahoo dot co dot id-
CP-081 241 927 000-Media Selayar--Sulawesi-Selatan--Indonesia
KAMI BANGGA- DAN BERTERIMA KASIH- KEPADA PEMBACA DAN PENDENGAR
STAY TUNE 98,3 FM--SEMUA UNTUK SELAYAR