Selayar
Home » , » Jelang Setahun SYIAR, Takkan Lahir Pelaut Ulung Di Laut Yang Tenang

Jelang Setahun SYIAR, Takkan Lahir Pelaut Ulung Di Laut Yang Tenang

Penulis Media Selayar on Senin, 19 September 2011 04.39.00

Jelang ,Setahun ,SYIAR, Takkan, Lahir ,Pelaut ,Ulung ,Di Laut, Yang ,Tenang


“Jangan Tanya Saya: Biarkan Orang Lain Menilai“ 

Kata government, yang kemudian kita terjemahkan menjadi pemerintah, berasal dari bahasa Yunani; kubernan, yang berarti nakhoda atau dalam kata kerja berarti mengemudikan kapal. Kata yang kemudian diadopsi ke dalam konsep pemerintahan moderen, mengandung penegasan peran nakhoda terhadap kapal dan penumpangnya. Nakhoda sebagai pemegang kemudi, bertanggungjawab secara penuh dalam mengemudikan kapalnya mengarungi lautan sekaligus bertanggungjawab atas keselamatan dan kenyamanan penumpangnya.

Dan selama 5 tahun menakhodai Kepulauan Selayar, Syahrir Wahab telah melakukan berbagai tindakan untuk daerah dan masyarakatnya.

Tapi ketika ditanya bagaimana komentarnya terhadap apa yang telah dilakukannya itu, Syahrir Wahab hanya mengatakan dengan suara rendah: “Biarkan orang lain yang menilai”.

Beberapa masyarakat yang melihat dan merasakan langsung kebijakan Syahrir Wahab bersedia memberikan testimoni. Begitupun dengan beberapa tokoh yang mengenal atau paling tidak pernah berinteraksi dengan Syahrir Wahab juga ikut memberikan komentarnya.

Ansaruddin (Mantan Kades, Desa Appatanah, Kecamatan Bontosikuyu):

Permasalahan yang dialami oleh masyarakat Appatanah – dan saya lihat menjadi permasalahan utama desa-desa lain, adalah masalah jalan, listrik dan air bersih. Dan itu sudah bisa kami nikmati sekarang. Banyak yang menutup mata terhadap perkembangan ini atau bahkan antipati terhadap Pak Bupati, tapi hal itu bukan karena pribadi Pak Syahrir dan kebijakannya.


Tapi dalam beberapa kasus, mereka yang kecewa itu karena ada harapan mereka yang belum terpenuhi, misalnya dalam permohonan bantuan. Tapi ini yang tidak dipahami oleh masyarakat, sebab semua bantuan itu sudah ada dalam APBD. Misalnya ada 50 yang bermohon bantuan keramba, tapi yang ada baru sepuluh, tentu tidak semuanya bisa dipenuhi. Sehingga muncullah kekecewaan dari yang tidak mendapatkan, padahal tahun depan bisa saja mereka mendapatkan juga karena yang saya lihat anggarannya masih ada di APBD. Ini yang tidak fair.

Dari itu, ketika ada masyarakat yang minta tolong dibuatkan proposal bantuan, saya selalu mencari tahu mengenai anggarannya di APBD. Kalau ada, saya akan buatkan dan fasilitasi, dan kalau tidak ada, saya akan berikan pemahaman bahwa kalaupun bermohon 10 kali misalnya, tidak akan diberikan sebab memang tidak ada posnya atau anggarannya. Hal inilah yang harus disampaikan ke masyarakat agar mereka bisa mengerti.

Sampai sejauh ini, bantuan yang ada sudah dinikmati masyarakat. Mesin katinting misalnya, sudah dimanfaatkan oleh para nelayan, dengan PK yang beragam sesuai dengan kapasitas kapal atau perahunya.

Dan hal itu memang sesuai dengan permintaan masyarakat, sehingga tidak tepat bila ada yang mengatakan bahwa mesin-mesin tidak digunakan sebab tidak sesuai dengan kapasitas kapal atau perahu penerima. Dan yang membanggakan saya dari masyarakat Appatanah, beberapa masyarakat tidak serta – merta menerima bantuan mesin karena sudah beralih profesi menjadi pedagang atau pengumpul ikan, walaupun mesin tersebut bisa saja diuangkan dengan menjualnya.

Bantuan keramba dari pemerintahpun sudah hampir menghasilkan, dimana dalam waktu dekat akan panen dengan jumlah lobster lebih 1000 ekor.

Saya tidak melihat bahwa ada bantuan yang tidak tepat sasaran – terutama yang saya lihat di desa ini. Bahkan program-program yang dari pemerintah sudah dinikmati masyarakat, terutama jalan, listrik, dan air bersih yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Fasilitas air bersih juga sudah akan ditingkatkan sarana dan prasarananya oleh UNICEF melalui Bappeda Kabupaten Kepulauan Selayar. Insya Allah sebelum akhir tahun, masyarakat Appatanah sudah bisa memutar kran di dalam rumah.

Jadi, hanya yang tidak mempunyai hati nurani yang mengatakan bahwa program yang ada tidak bermanfaat dan tidak perlu dilanjutkan.

Muh. Haris / Baso Tompe (Nelayan / Tokoh Masyarakat, Binanga Benteng, Desa Binanga Sombaiya, Kecamatan Bontosikuyu):

Di samping program yang bisa dinikmati masyarakat umum, bantuan langsung ke masyarakat sudah dinikmati hasilnya oleh masyarakat. 17 nelayan di Binanga Sombaiya sudah memanfaatkan mesin katinting yang didapatkan, dan sudah tidak mendayung lagi ketika melaut. Begitupun dengan 2 kelompok nelayan dengan anggota masing-masing 10 orang dimana setiap kelompok mendapatkan 5 mesin, juga sudah memanfaatkannya.

Peningkatan dari sisi ekonomi dengan adanya bantuan ini, memang belum maksimal, tetapi hal itu lebih karena harga ikan yang memang sedang turun. Misalnya, beberapa waktu lalu harga ikan teri sekitar 300 ribu per keranjang, kini tinggal 150 ribuan per keranjang. Ini juga harus menjadi perhatian pemerintah, yaitu pemasaran hasil tangkap nelayan.

Dari 30 ekor bantuan sapi untuk kelompok peternak di Dusun Binanga Benteng, dari 27 ekor betina, 24 ekor sudah melahirkan. Para peternak memang sudah siap untuk mengembangkan usaha ini, yang antara lain sudah mempersiapkan kandang terlebih dahulu, serta penanaman tanaman yang akan dijadikan pakan ternak.


Harapan kami para peternak ke depan, adalah adanya bantuan kawat duri, sehingga kandang dan tempat pencarian makan bisa diperluas dan tidak mengganggu tanaman pertanian dan perkebunan masyarakat. Bantuan ini, membuat kami, terutama yang telah menerima bantuan dan merasakan manfaatnya, dapat dilanjutkan, sebab bukti sudah ada.

Andi Norma (Tokoh Perempuan, Padang, Desa Bontosunggu, Kecamatan Bontoharu):

Ketika masyarakat mulai membuka lahan persawahan di dekat Bandara, sebenarnya saya melihat akan adanya keragu-raguan, apakah persawahan yang mereka buka bisa berkembang atau tidak. Tapi karena dukungan pemerintah dalam hal ini sangat serius, sehingga kini sudah bisa dibayangkan hasilnya. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar melalui Bapak Bupati langsung memberikan bantuan hand tractor kepada kelompok tani di Desa Bontosunggu ini.

Para petani bisa mengolah sawahnya dengan lebih baik. Di samping itu, petani tambak juga telah memanfaatkan hand tractor ini ketika mereka membenahi tambak mereka, terutama dalam membolak balik tanah tambak dalam persiapan menurunkan bibit. Pekerjaan yang selama ini berat dilakukan karena menggunakan cangkul, kini para petambak mulai melirik tambak mereka kembali untuk dikelola dengan lebih serius.

Di samping itu pula, di Desa Bontosunggu ini, juga ada bantuan langsung modal usaha untuk kelompok pembuat terasi, dan hasilnya, produk mereka bisa ditingkatkan dengan kualitas yang lebih baik, bahkan kini sudah ada yang menjualnya dengan kemasan menarik sehingga bisa dijadikan oleh-oleh untuk keluarga di daerah lain.

Yang perlu disyukuri adalah, bahwa, dalam penyaluran bantuan ini, baik keramba, hand tractor, mesin katinting dan modal usaha, Pak Kades memang tegas dalam mengusulkan masyarakatnya yang akan mendapatkan bantuan, terutama dalam melihat profesi dari calon penerima bantuan.

Bisa jadi, karena berdasarkan indikator yang jelas, sehingga bantuan tidak menjadi yang mubazir, dan kini masyarakat sudah bisa melihat hasilnya.

H. Baso Sayang (Imam Dusun, Tonjo, Desa Kayu Bauk, Kecamatan Bontomatene):

Permasalahan utama Desa Kayu Bauk adalah jalan yang menghubungkan Desa ini dengan ibukota kecamatan dan desa lain yang sudah sangat parah. Begitupun dengan jalan lingkar dusun. Di samping tinggal batu – batuan karena aspalnya sudah “habis” terkikis, juga dimana-mana berlubang. Dan itu saya hitung sudah lebih 10 tahun tidak diperbaiki.

Melalui beberapa acara yang dihadiri oleh Bapak Bupati, kami menyampaikan keluahan – keluhan, antara lain masalah jalan tersebut. Tahun 2007, jalan lingkar Desa mendapatkan pengaspalan. Dan tahun 2009, jalan poros antar desa, tidak saja diaspal, tapi malah dihotmix. Dan kini sudah sangat mudah untuk ke dan dari desa ini.

Hal lain yang kami keluhkan juga setiap ada pertemuan dengan Bapak Bupati adalah masalah air bersih. Tapi dengan dialirkannya air Tajuiya, kini kami bisa menikmati air bersih walau kami masih harus menumpang di Dusun Sapohatu karena jalur pipa ke dusun ini belum ada. Tapi ini sudah sangat membantu, sebab masyarakat sudah bisa mandi dan mencuci, setelah selama beberapa tahun kami “tersiksa” oleh masalah air bersih.

Bisa dibayangkan, beberapa tahun terakhir, untuk air minum saja, kami harus antri antara setengah sampai satu hari untuk mendapatkan seember air. Apalagi untuk mandi dan mencuci. Selama ini, terutama pada musim kemarau, beberapa masyarakat harus pergi ke sumur pada tengah malam dan kembali di pagi hari agar aktifitas rutin tidak terganggu. Sebab kalau subuh baru ke sumur, paling siang atau bahkan sore hari baru mendapatkan giliran karena yang menimba harus satu persatu agar air tidak keruh.

Kini dengan adanya pemipaan air Tajuiya, walaupun belum melewati dusun Tonjo, tapi kami sudah bisa menikmatinya walau melalui keluarga di dusun Sapohatu.

Dalam pertemuan dengan Bapak Bupati beberapa waktu yang lalu, kami juga sudah mengusulkan agar air Tajuiya juga bisa dialirkan ke kampung kami. Kalau hal itu terwujud, berarti permasalahan terbesar masyarakat di dusun ini sudah bisa teratasi.

Dengan adanya pipanisasi saja saat ini, dimana masyarakat sudah merasakan manfaatnya, beberapa masyarakat pernah menyampaikan kepada saya; so’di sambung-sambungang jua ummurunni, kusambung ummuru’na pa’ Bupati (seandainya umur bisa disambung (oleh manusia), saya akan sambung umurnya Pak Bupati).

Mas’ud (Tokoh Pemuda, Desa Lambego, Kec. Pasimarannu):

Beberapa proyek yang ada di Pasimarannu adalah pembangunan SMP di Lambego, SMA di Bonerate, pengaspalan jalan ke Miantuu, dimana masyarakat sudah merasakan manfaatnya. Begitupun dengan jalan tani serta dermaga yang berasal dari dana APBN, tapi kami tahu bahwa itu atas usaha Bapak Bupati.

Begitupun dengan PLTS. Dari 6 Desa, 5 Desa mendapatkan masing-masing 50 PLTS, kecuali Desa Majapahit karena mendapatkan layanan PLTD. Masyarakat bersyukur karena tidak perlu membeli minyak tanah. Masyarakat sangat merasakan besarnya anggaran pembangunan dibanding (Bupati) periode sebelumnya. Saya yang sering membantu masyarakat, mengalami sendiri bagaimana Bupati sering memberikan bantuan.

Mengenai besarnya anggaran yang dialokasikan di kepulauan – tentunya tanpa melupakan anggaran di daratan utama Selayar, diakui oleh semua pihak, baik teman maupun lawan politik Pak Bupati.

Dan mayoritas masyarakat kepulauan berharap, agar bisa dilanjutkan.

Muh. Asdar (Penggiat Koperasi, Dusun Ujung, Desa Bontobulaeng, Pasimasunggu Timur):

Selain jalan lingkar Jampea, masyarakat juga mendapatkan bantuan mesin katinting, pupuk, bibit, dan kini sudah menghasilkan. Pencetakan sawah baru di Pasimasunggu dan pembuatan bendungan irigasi di Doda’ sudah membuahkan hasil. Di Doda’, Mangatti dan sebagian Benteng bahkan sudah dua kali panen.

Koperasi Desa juga sudah eksis dan membantu petani dalam penyediaan pupuk dan dapat menyanggah harga beras. Dengan adanya koperasi, harga beras yang sebelumnya Rp. 1000 / liter, kini sudah Rp. 2.500 / liter. Masyarakat juga terbantu dengan adanya bantuan hand tractor. Yang sangat berkesan di masyarakat adalah, “gampang”nya Bupati memberikan sumbangan, baik untuk mesjid maupun untuk kegiatan organisasi dan sosial kemasyarakatan.

Walau beberapa proyek mengalami “kendala” dalam pelaksanaan di lapangan sehingga pengawasan harus lebih diperketat di masa mendatang, tapi harus diakui bahwa pembangunan di kepulauan, terutama di Pasimasunggu dan Pasimasunggu Timur sangat pesat dibanding dengan Bupati – Bupati sebelumnya. Banyak masyarakat yang bahkan berkata: “Sallomo rie istilah Bupati selama inni, na ngura inni tompa na lohe pembangunan” (sudah lama ada Bupati, kenapa baru (periode) sekarang banyak pembangunan?).

Patta (Petani Kopra, Lembang Mate’ne Timur, Desa Lembang Mate’ne, Kecamatan Pasilambena):

Pembuatan jalan dari Lato’dok ke Barumbung betul-betul sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ekonomi masyarakat mulai menggeliat, sebab akses ke pasar menjadi mudah, baik dengan kendaraan sendiri maupun menggunakan jasa ojek.

Bahkan sekarang banyak yang mengangkut kopra dari kebunnya dengan menggunakan ojek. Kalau sebelumnya menggunakan kuda – dimana untuk 4 karung (karung beras – pen) yang beratnya sekitar 1 kwintal, sewanya sekitar 20 – 30 ribu sesuai jaraknya; dengan motor, sewanya tinggal sekitar 15 ribu untuk 1 kwintal, yang biasanya dipadatkan dalam 3 karung, dimana sewa per karungnya 5 ribu.

Yang sangat luar biasa adalah pembangunan dermaga Kawau, Desa Garaupa yang akan menjadi dermaga terbesar di Selayar sebab lebarnya 9 m, panjang lebih 300 m, dan konon anggarannya sekitar 30 m. Dan itu atas perjuangan Bapak Bupati di Jakarta.

Walau belum selesai, dimana tahap pertama yang saya dengar sudah menghabiskan 10 m, tetapi kemegahannya sudah kelihatan. Sekarang bahkan sudah dijadikan tempat hiburan dan rekreasi, sambil memancing. Kalau selesai, tentu bisa disandari fery dari Benteng atau dari dan ke Nusa Tenggara, sehingga akan berdampak secara ekonomi bagi masyarakat Pasilambena dan kepulauan secara umum. Bagi saya, keterlaluangki tu pulonni ampa gele rihargai to la pausahaang injoki inni (kita orang pulau sangat keterlaluan apabila tidak menghargai orang yang telah mengupayakan semua ini).

Dg. Maloga (Peternak, Pengga, Desa Pamatata, Kecamatan Bontomatene):

Selain mesin katinting dan pemipaan air bersih ke rumah – rumah, di Desa ini ada juga bantuan kambing untuk kelompok ternak. Mereka berkelompok dan memiliki tempat penggembalaan bersama, tetapi masing – masing anggota kelompok memiliki kandang sendiri.

Dalam pembagian kambing untuk peternak, tidak ada konflik yang terjadi di masyarakat. Memang banyak yang mengajukan (permintaan bantuan) kambing dan yang dapat belum semuanya. Tapi masyarakat bisa memahami bahwa anggaran terbatas. Mereka juga menyadari bahwa suatu hari nanti mereka akan mendapatkan giliran (diberi bantuan) juga.

Jadi tidak benar bahwa ada konflik dan ada isu negatif seputar bantuan itu. Bahkan saya sebagai salah seorang anggota kelompok ternak, adalah yang terakhir dipanggil untuk mengambil kambing setelah yang lain sudah terlebih dahulu dipanggil memilih. Saya sempat kecewa, karena yang tersisa kecil-kecil semua. Tapi istri saya minta bersabar dan mensyukuri yang ada, sebab pasti ada hikmahnya.

Alhamdulillah, bagian kambing kami yang 3 ekor sudah besar dan sudah ada yang melahirkan. Bahkan kami sudah menikmati hasilnya karena sudah sempat menjual seekor. Padahal kambing yang lain ada yang lumpuh, sakit-sakitan kena sola’, bahkan ada yang mati. Mungkin itu buah dari kesabaran dan kesyukuran kami. Kami bersyukur kepada Tuhan karena diberi rezki, dan berterima kasih kepada Bapak Bupati karena memberi kami bantuan kambing.

Apa yang kami alami itu mengajarkan, bahwa kalau kita tidak tahu bersyukur dan berterima kasih, kambing kita bisa mati.

Syahrul Yasin Limpo, SH, M.Si, MH (Gubernur Sulawesi Selatan):

Sebagai Gubernur, saya selalu menjalin komunikasi dengan Bupati / Walikota di Sulsel. Tapi dari sekian Bupati, yang paling sering menelpon saya adalah Bupati Selayar. Kadang siang, kadang malam, bahkan beberapa kali di saat saya sudah berisap – siap untuk tidur. Tapi saya harus mendengarkan, sebab mungkin ada permasalahan yang mendesak di Selayar yang harus disampaikan. Bahkan pernah saya ditelpon sekitar setengah 12 malam dan saya sudah mau tidur. Waktu itu Pak Bupati menyampaikan, bahwa, sejak Indonesia merdeka, orang Selayar belum pernah menikamati subsidi BBM dan orang Selayar harus membayar lebih dibandingkan dengan masyarakat di daerah lain.

Jadi saya tahu, bahwa Pak Syahrir adalah orang yang serius memikirkan dan memperjuangkan masyarakatnya, bahkan sering ngotot. Saya yakin, dengan tekad dan semangat seperti ini, Selayar akan lebih maju di masa mendatang.

Emil Abeng, MBA (Anggota DPR RI):

Dengan senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, perkenankanlah saya, Emil Abeng, Putra Selayar yang atas ridha Allah SWT menjadi Anggota DPR RI mewakili masyarakat Selayar, menyatakan kebanggaan atas pembangunan yang telah berlangsung di bawah kepemimpinan Syahrir Wahab.

Sejak awal – dan dalam berbagai kesempatan, saya selalu menyampaikan bahwa negeri Indonesia ini, khususnya tanah asal saya Kabupaten Selayar, merupakan negeri dengan anugerah Allah yang luar biasa. Anugerah itu berupa kekayaan alam yang melimpah, keindahan panorama daratan dan lautan, serta kekayaan budaya. Namun saya masih menyatakan keprihatinan, karena ternyata yang selalu dikenal di luar negeri hanya Pulau Bali.

Untuk itu saya mengajak seluruh komponen masyarakat untuk mensukseskan seluruh upaya pembangunan yang telah dilakukan dan dibuktikan oleh Bupati sekarang, yaitu Drs. H.Syahrir Wahab, MM, yang saya tahu mempunyai skala prioritas dalam membangun Selayar ke depan. Prioritas pertama adalah melanjutkan pembangunan infrastruktur mulai dari listrik yang akan mampu menerangi seluruh desa di Kabupaten Selayar, sampai pemenuhan kebutuhan industri khususnya industri perikanan berorientasi ekspor. Prioritas selanjutnya adalah pengembangan Bandara dan Pelabuhan Laut sehingga Selayar mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan.

Prioritas lain yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan kualitas SDM Selayar, melalui pembangunan sekolah unggulan, pembangunan BLK dan pemberian beasiswa bagi siswa dan mahasiswa berprestasi.

Jika hal tersebut diselesaikan, Insya Allah Kabupaten Kepulauan Selayar akan mampu menjadi daerah yang dapat dibanggakan di bawah kepemimpinan Bupati Syahrir Wahab. Saya menyampaikan penghargaan kepada Bupati Selayar. Saya berharap, kita menghargai pembangunan yang telah dilakukan oleh Drs. H. Syahrir Wahab dengan memilihnya kembali menjadi Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar.

Setelah Anda Membaca:
Setelah Anda membaca buku ini, kami tidak punya sesuatu lagi untuk kami tambahkan. Andalah yang menilai. (Sumber : http://blog.selayaronline.com/)



KEMBALI KE HALAMAN UTAMA ..



Bila terdapat kekeliruan dalam penulisan silahkan Kontak Redaksi kami Untuk Klarifikasi

1 komentar:

  1. Kita harus akui pembangunan di Kabupaten Kepulauan Selayar sudah ada yang terlaksana tetapi lebih banyak yang belum,mudah2an di masa yang akan datang semua sektor pembangunan dapat terlaksana dengan baik itu harapan kita semua ......!!!!!!

    BalasHapus

Terima Kasih Telah Berbagi Dengan Kami Di Redaksi Blog Media Selayar