.

Media Selayar

Medianya Orang Selayar

Home » , » Kombinasi Kekuatan Uang dan Strategi

Kombinasi Kekuatan Uang dan Strategi

Penulis Media Selayar TV on Minggu, 06 Juni 2010 00.09.00


Oleh: H Moh Roem (Ketua DPRD Sulawesi Selatan)
Dari Sabang sampai Merauke dan di belahan dunia manapun, setiap pentas demokrasi suksesi kepemimpinan, membutuhkan ruang pamer (show room) sebagai media dalam ruang dan media luar ruang. Sebagai perumpamaan, yang "dipamerkan" adalah kandidat atau pasangan calon yang ikut berkompetisi. Tujuannya tiada lain untuk sosialisasi diri dan pencitraan.

Sebuah pesan politik sekaligus warning bagi siapa saja yang ingin meramaikan bursa pemilu kepala daerah: jangan setengah-setengah ketika berhadapan dengan proses politik bila tidak ingin digulung oleh derasnya arus kekuatan seputar duit.

Betul seratus persen sebab siapapun tahu bahwa ongkos pencitraan relatif menyedot dana yang tidak kecil. Iklan politik di layar kaca (baca: televisi) misalnya, bisa mencapai ratusan juta rupiah. Televisi nasional dipastikan jauh lebih besar lagi untuk volume tayang yang sama. Belum lagi pembuatan atribut, branding, alat peraga, dialog interaktif di ruang tertutup dan lain sebagainya.

Begitu halnya dengan model pendekatan untuk pencitraan yang cukup intens menghiasi media cetak; pembentukan opini publik dengan menggunakan jasa lembaga penelitan/survei, konsultan politik, managing politic dan semacamnya, "mahar" untuk parpol pengusung,

kesemuanya tidak sedikit menyedot pundi-pundi peserta pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah. Seperti diketahui, lembaga jasa seperti ini sudah lazim digunakan dalam pentas demokrasi, dan oleh karenanya laris manis ketiban order jelang pesta demokrasi lokal.

Selain itu kegiatan-kegiatan yang dikemas seperti pengobatan massal, panggung hiburan, pertandingan olahraga, jalan santai, pemberian sembako, dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, menjadi tren untuk menciptakan suasana kemeriahan dalam penggalangan massa.

Namun sejauh ini tidak ada jaminan apakah kegiatan seperti itu efektif dalam menarik floating mass dan swing voters. Kehadiran massa tidak bisa menjadi tolok ukur atau klaim kekuatan riil yang bisa mengantar calon menjadi pemenang. Mengapa? masyarakat yang masih dibelit kemiskinan, mereka harus memutar otak apa yang mau dimakan esok hari.

Jadi, siapapun (kandidat) yang memberi uang, sandang dan pangan, pasti mereka terima. Mereka tidak memiliki biaya yang cukup untuk berobat, dan haus akan sajian hiburan. Kondisi kemiskinan menyebabkan masyarakat menanti "budi baik" pasangan calon.

Tidak peduli janji-janji, konsep dan program yang belum tentu diwujudkan. Namun sekali lagi, budi baik calon belum tentu diaktualisasikan di bilik suara.

Esensi kampanye secara substantif sesungguhnya merupakan upaya sistemik untuk menarik rakyat pemilih untuk mendukung dan memilih pasangan calon yang diyakini dapat membawa perubahan signifikan dalam kehidupan mereka. Karena ajang kampanye bertendensi unjuk kekuatan, maka dapat dipastikan biayanya akan sangat besar.

Memasuki masa kampanye, kekuatan rupiah jelas sangat mewarnai kemeriahan kampanye yang harus menonjolkan identitas sebagai personifikasi figur. Rupiah digunakan untuk ongkos transpor, konsumsi, atribut dan lain sebagainya. Apalagi ada daerah tertentu karena tradisinya menyebabkan biaya politik lebih tinggi dari daerah lainnya. Disebar pula baju kaos dari yang sederhana hingga yang lumayan bagus kualitasnya.

Masyarakat dari berbagai lapisan, mulai dari penarik becak, pedagang, buruh, para tokoh hingga elite parpol berjubel memenuhi ruang publik. Tidak jarang mengundang artis/selebriti untuk menarik minat massa di terik matahari. Lagi-lagi, massa yang datang belum tentu pencerminan simpatisan pemilih riil, tapi hanya penggembira sebagai kompensasi adanya uang lelah.

Fakta empirik menunjukkan massa yang datang pada kampanye calon tertentu, sebagian dari mereka juga hadiri kampanye calon lain di hari yang lain. Yang berbeda hanya atribut yang digunakan. Belum lagi bila "operasi senyap" menjadi bagian dari strategi sentuhan terakhir yang menentukan, bisa dibayangkan betapa besarnya dana yang dibutuhkan. Karena itu urusan finansial, harus ada yang mengatur dengan baik termasuk dalam hal kendali sumber dana.

Strategi perjuangan dan pemenangan pun harus dimainkan sejalan dengan kucuran rupiah yang tak dapat dibendung. Kekuatan uang dan strategi ibarat dua sisi mata uang yang sama. Dilihat dari sisi urgensinya, kekuatan uang bagaikan sistem jantung dan strategi merupakan sistem otak dalam anatomi tubuh manusia.

Sebagaimana lazimnya dipraktikkan dalam sistem pemilihan langsung (memilih figur) dan atau yang di Indonesia dikenal dengan sistem distrik, termasuk dalam pemilu lokal/pemilukada, peranan partai politik sangat terbatas. Peran partai tidak lebih dari sekadar fasilitator, pintu masuk mengantarkan kandidat untuk bisa ikut berkompetisi.

Parpol juga tidak dominan dalam menentukan platform apa yang mau diperjuangkan oleh calon. Oleh karenanya platform lebih merupakan platform calon yang bersangkutan dan bukan platform parpol. Para kandidat juga mau tidak mau menyiapkan tim yang diperlukan, memobilisasi sumberdaya, menentukan strategi pemenangan dan mendanai kampanye.

Dalam perspektif Partai Golkar Sulsel, menghadapi pemilukada tahun 2010 di 10 kabupaten, kami tidak sekadar memberi "secarik kertas" sebagai passport untuk bisa masuk, akan tetapi terpanggil untuk ikut mengantar calon sampai ke tujuan. Partai Golkar tidak mencampuri, terlibat dan dilibatkan dalam tim keluarga, tim relawan dan tim lainnya yang dibentuk.

DPD I Golkar Sulsel melalui G Force berperan merekrut suara/pemilih, menggerakkan timnya dan menyebar anggotanya untuk mencari dukungan guna memenangkan calon dari Partai Golkar. G Force bergerak sendiri dan dikontrol oleh DPD I Partai Golkar.

Hubungan antara tim-tim yang dibentuk pasangan calon dengan partai dan G Force bersifat timbal balik dan saling mengisi. Sinergi dan strategi sesungguhnya lebih mudah operasional bila sang calon memiliki kedekatan emosional, historis dan struktural dengan Partai Golkar.

Maka dari itu, wajar saja jika partai lebih happy dan enjoy bila kadernya sendiri yang maju jadi calon. Dalam hubungan strategi ini, Partai Golkar punya mekanisme tersendiri yang diatur dalam juklak-juknis. Jika kombinasi kekuatan uang dan strategi bisa menyatu, tinggal rida Tuhan Yang Maha Kuasa yang berbicara. (*)


0 KOMENTAR TRENDERS:

Posting Komentar

Terima Kasih Telah Berbagi Dengan Kami Di Redaksi Blog Media Selayar

BERLANGGANAN BERITA

 
Alamat Redaksi Jl.Mkr Bonto No 28 | Benteng Kab-Kep-Selayar -92812- email- radiocontrend at yahoo dot co dot id-
CP-081 241 927 000-Media Selayar--Sulawesi-Selatan--Indonesia
KAMI BANGGA- DAN BERTERIMA KASIH- KEPADA PEMBACA DAN PENDENGAR
STAY TUNE 98,3 FM--SEMUA UNTUK SELAYAR