.

Media Selayar

Medianya Orang Selayar

Home » , , » Golkar, Tahun Macan dan Euforia Pilkada 2010

Golkar, Tahun Macan dan Euforia Pilkada 2010

Penulis Media Selayar TV on Minggu, 06 Juni 2010 00.11.00

MEDIA SELAYAR. Golkar, Tahun Macan dan Euforia Pilkada 2010 Oleh: Anis K Al-Asyari (Mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Politik UGM Yogyakarta, Direktur Program LP2R Bulukumba) Anis K Al-Asyari Banyak kalangan memprediksi masa depan Golkar di Sulawesi-Selatan pasca terpilihnya Syahrul Yasim Limpo bakal lebih baik. 

Tren Golkar bisa menaik lebih pesat mengingat pengaruh SYL yang dinilai sukses memberi harapan baru bagi masyarakat dengan berbagai kebijakan spektakulernya. Dan pilkada 2010 di 11 kabupaten di Sulsel akan menjadi momentum pembuktian. Betulkah Golkar akan terlahir kembali? Belum lama ini, Golkar sudah memutuskan para kandidat yang diusung. 

Ada banyak teka-teki di sana terkait tokoh-tokoh yang kemudian terpilih di luar dugaan. Patokannya konon melalui survei. Terlepas dari metode survei dan objektivitasnya, survei yang by order jelas selalu di bawah kendali kuasa elite dan rawan ter-intervensi oleh kepentingan tertentu. Teka-teki soal akuntabilitas dan objektivitas survei selalu menjadi tidak penting dipersoalkan, yang jelas hasil survei menjadi alasan kuat untuk melegitimasi pemilihan figur. 

Popularitas dan elektabilitas seorang figur akan mendukung rating survei. Di luar itu, Golkar Sulsel misalnya mencoba mengebiri integritas tokoh-tokoh tertentu yang sebenarnya bagian dari pengurus partai. Atau setidaknya partai kemuning itu akan memainkan pilihan di antara dua pilihan yang begitu dilematis. Antara figur non-partai dengan rating survei tertinggi dan orang partai yang memiliki integritas baik terhadap partai. Di Selayar misalnya, Bupati Syahrir Wahab dan Ince Langke menjadi tokoh pilihan, lalu Golkar sepertinya lebih cenderung ke Syahrir Wahab ketimbang Ince yang sesepuh Golkar Selayar. 

Itu juga terjadi di Bulukumba. Sehari sebelum penentuan calon, media massa melansir nama Zainuddin Hasan sebagai kandidat tunggal, namun keesokan harinya, keputusan berubah dan tentu saja mengagetkan; A Sukri Sappewali (Bupati) menjadi pilihan. 

Kasus yang sama terjadi di kabupaten lainnya. Dilema politik itu sangat kental. Jelas bahwa Golkar sangat berhati-hati dalam penentuan calon bupati demi sebuah agenda besar, setidaknya memenangkan lebih dari separuh pertarungan kepala daerah bahkan kalau perlu memenangkan 11 kabupaten. 

Detik-detik menjelang Pilkada 2010 ini, Golkar sangat mewarnai pertarungan dan sekaligus menjadi momok yang menakutkan, setidaknya bagian dari bias ketokohan Syahrul. Apakah Golkar akan membuktikan diri sebagai partai besar yang akan mendongkrak suara di pilkada sebagai bekal menang telak di Pemilu 2014? Kita akan lihat nanti. 

Yang jelas, keseriusan itu mulai terlihat sejak dini, meski dengan keputusan-keputusan yang serba mengejutkan publik. Tahun Macan Kalau Golkar sungguh-sungguh ngotot untuk memenangi pilkada di 11kabupaten di Sulsel, meski berbagai dilema menghantui, maka dipastikan Pilkada 2010 ini akan sangat kompetitif dan panas. 

Ada tiga alasan itu terjadi, pertama, para figur yang diusung Golkar akan bertarung habis-habisan untuk agenda mutlak pemenangan total. Kedua, perlawanan akan lebih solid, terutama dari partai-partai besar yang selama ini menjadi saingan berat di daerah seperti Demokrat, PAN, PDI Perjuangan, Hanura dan lainnya. Ketiga, partai-partai kecil yang bergabung mengusung figur alternatif akan berjuang sangat berat karena diapit dua perseteruan besar di atas. 

Apalagi calon independen yang basisnya tidak berangkat dari institusional partai, sepertinya menghadapi kendala lebih besar untuk menjadi kuda hitam. Buktinya, hingga menjelang verifikasi dan pendaftaran bakal calon (balon) di KPU, calon independen tidak terlalu ramai dibicarakan, bahkan ada beberapa daerah yang kemungkinan tanpa calon independen. 

Ada pula kemungkinan, beberapa daerah yang head-to-head antara Golkar dan gabungan partai besar. 2010 benar-benar tahun macan (dalam kepercayaan China), seperti halnya macan yang seekor binatang buas dan penguasa hutan, mensyaratkan adanya perang yang keras. Tahun macan adalah tahun yang keras dan menyeramkan. 

Dan momentum pilkada di 11 kabupaten di Sulsel seperti akan merepresentasikan kepercayaan kuno itu, di mana akan terjadi pertarungan politik yang keras. Apalagi kita tahu, pilkada kali ini adalah episode kedua pemilihan langsung di tingkat kabupaten. Konflik-konflik horizontal antara massa pendukung sangat rawan dan mudah pecah. Pemetaan politik di daerah yang semakin menyempit akan merembes pada konflik komunal. 

Konflik antar-keluarga atau antar- kampung yang bisa sangat solid dukungannya. Secara geografis, potensi konflik akan lebih berbahaya karena masyarakat akan secara langsung berhadap-hadapan. Barangkali kita sudah belajar banyak pada Pilkada 2005 di sejumlah daerah di Indonesia, padahal ketika itu pilkada baru semacam eksperimentasi pertama. 

Selain konflik, kemungkinan terjadinya proses demokratisasi yang buruk terbuka lebar seperti money politics, tekanan politik bagi komunitas dan entitas identitas kultur, agama dan genetika, politik primordial juga kecurangan administratif. Praktik-praktik politik busuk itu akan bermetamorfosa dalam praktik-praktik yang lebih canggih dan mungkin akan lebih vulgar. Itulah efek demokrasi dengan pilkada langsung negara dengan kesejahteraan ekonominya masih sangat memprihatinkan. 

Masyarakat akan semakin pragmatis dan begitu sulit direkonstruksi karena ada semacam lingkaran setan yang membangun kultur politik buruk itu. Partai politik yang tidak mendidik dan sistem perekrutan kader kepemimpinan yang tidak berbasis kapasitas, elite politik yang tidak dilandasi oleh keluhuran menjalankan peran wakil rakyat yang sesungguhnya serta masyarakat yang merasa tidak punya andil dan kepentingan terhadap proses demokratisasi. 

Dengan begitu, Pilkada 2005 di berbagai kabupaten di Indonesia dengan seribu satu konflik dipastikan tidak akan bergerak ke arah yang lebih baik, karena pilar-pilarnya masih bermasalah. Demokratisasi yang terbangun di bangsa ini juga belum menjawab suatu pertanyaan substantive, yakni apakah demokratisasi sudah menyejahterakan rakyat? Euforia Pilkada Lalu, bukan rahasia umum lagi bahwa pilkada di 11 kabupaten di Sulsel akan berpotensi melahirkan proses politik yang mengerikan, dalam arti sebuah proses politik yang akan semakin mengarah pada dehumanisasi. 

Pendidikan politik yang didambakan sepertinya akan semakin menjauh. Tidak ada semacam evaluasi dari pilkada sebelumnya. Masyarakat tidak semakin kritis tetapi justru semakin apatis. Kepasrahan masyarakat sudah sampai pada titik nadirnya; bagi kebanyakan dari mereka, kemenangan pilkada selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki kapasitas finansial, tidak peduli kapasitas visi dan niat luhurnya bertarung di pentas pilkada. 

Kini, pembicaraan-pembicaraan tentang pilkada selalu berputar pada partai pengusung, kemampuan modal dan basis pemilih. Tidak ada sama sekali pembicaraan substantif soal gagasan besar untuk menjadikan pilkada sebagai proses loncatan espektasi menuju agenda perubahan signifikan; bagaimana negara ini bisa dibangun dari penguatan di basis lokal. Wacana pilkada pun hanya ada di tingkat elite, seperti halnya manuver politik yang dilakukan Golkar. 

Rakyat sepertinya hanya menunggu dengan harapan-harapan semu dan ingar-bingar pilkada yang selalu disesaki kampanye hitam dan transaksi jual-beli suara. Lalu bagaimana memperbaiki situasi mengerikan itu? Masih ada waktu beberapa bulan untuk introspeksi bersama, meski itu berat terwujud karena seperti dikatakan sebelumnya, paradigma politik kita begitu suram. 

Dan tidak ada upaya keluar dari kesuraman itu. Semua pihak seperti menari-nari di atas kesakitan, di atas kemiskinan dan kasus korupsi yang melilit bangsa. Golkar Sulsel boleh saja mendambakan kemenangan total di Pilkada 11 kabupaten di Sulsel, meski banyak pengamat memprediksi Golkar 2009-2014 di Indonesia akan sangat kesulitan. 

Kita berharap di tahun macan ini pilkada bisa lebih fair. Pilkada tidak sekadar pesta yang melibatkan tenaga banyak orang juga cost yang mahal. Lalu, para elite tidak sekadar membual janji. Namun, berhati-hatilah di pilkada kali ini, di tahun macan ini. Pasti akan banyak hal yang mengejutkan. (**)

0 KOMENTAR TRENDERS:

Posting Komentar

Terima Kasih Telah Berbagi Dengan Kami Di Redaksi Blog Media Selayar

BERLANGGANAN BERITA

 
Alamat Redaksi Jl.Mkr Bonto No 28 | Benteng Kab-Kep-Selayar -92812- email- radiocontrend at yahoo dot co dot id-
CP-081 241 927 000-Media Selayar--Sulawesi-Selatan--Indonesia
KAMI BANGGA- DAN BERTERIMA KASIH- KEPADA PEMBACA DAN PENDENGAR
STAY TUNE 98,3 FM--SEMUA UNTUK SELAYAR